Jumat, 29 Januari 2016

Suporter Setia MU(Manchester United) Tidak Bakal Mendukung MU Sebelum LVG Di Pecat


Agen Judi Online Terpercaya - Suporter yang setia kepada MU yang populer di Liga Inggris ,Fred Done, bersumpah tidak akan mendukung pertandingan nanti di Old Trafford ,sebelum Louis Van Gaal di percat ,
mengaku sudah tidak pantas dia di MU karena gaya permainannya yang membosankan sekali.

Dilansir dari mirror Padi hari jumat WTB 29 januari 2016 ,Fred Done yang juga pemilik perusahaan judi Btfred, populer karena berkali-kali mengeluarkan dana/uang yang sangat besar, untuk itu bertaruh pada kemenangan setan merah ini, alu hanya untuk menanggung kerugiam di akhir musim berikut nya

Diantarnya pada tahun 1998 ,waktu dia bertaruh MU akan memberikan juara Premier League. Lalu di akhir musim,MU hanya menjadi runner-up, kalah satu point dari arsenal yang dalam musim penuh pertama bersama Aresene Wenger.

Fred Done mengulanginya pada tahun 2012 dia membayar mahal untuk bertaruh bahwa MU aka menjadi juara Old trafford ,tetapi semua harapakan itu gagal totoal di karnakan Sergio Aguero di menit akhir mencetak gol,lalu membuat MC (Manchester City) sukses megalahkan rival kota nya.

Selama 65 Tahun , sejak Duncan Edwards ke george Best,Bobby Charlton dan Paul Scholes ,saya masih menjadi pendukung setia samapai MU (Manchester United) sekarang ada di peringkat 5 

Rabu, 20 Januari 2016

Sepupuku Minta Di Ngentot



Cerita Sex Indonesia - Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Sepupuku Super Genitnya. Aku punya sepupu cewek orangnya cantik dan yang paling genit, dia denganku hanya terpaut 3 tahun namanya Fika dia berkulit putih sperti primadona kayak di film blue japan, susunya juga pas dengan proporsi tubuhnya tidak terlalu besar maupun kecil, dia kalu bepenampilan selalu menggoda mataku sering aku ngelirik pahanya jika kita bersama.

Satu ketika, aku diminta Fika bantuin bikin desain logo acara skolah dia. Waktu itu, aku di kuliah dan Fika di sma. Kebetulan ditinggal orang rumah, aku dan Fika berduaan di kamar aku karena komputer aku ada di kamar.

“ko, kenapa koko lom punya pacar?”, tanya Fika memecah suasana. Aku yang lagi serius cuma bengong sambil menoleh ke Fika dan aku kaget karena mukanya deket banget am aku sampe aku bisa kerasa nafasnya dia (untung nafasnya ga bau hehehe). Dikit deg2an juga aku ngeliat muka manis Fika yang deket banget.
“eh..gak aja..maksud koko, lom mau”, jawab aku sekenanya sambil nerusin kerjaannya.
Puluhan menit lewat dan rupanya Fika mulai pegal karena dia duduk di kasur aku di lantai dan komputernya di deket kasur aku. Beberapa kali Fika harus merubah posisi dan kadang dia bertanya soal bentuk logonya. Entah disengaja ato gak, tiap kali dia ganti posisi duduk, pasti lengan kiri aku nyenggol tokednya yang sekel.

Berkali kali disenggol, batang aku merespon. Mulai on aku. Curi2 pandang, aku liat belahan kaos Fika. Siang itu dia pake hotpants hitam dan atasan putih longgar, membuat aku bisa ngeliat bebas ke dalam bajunya. Aku bisa intip bra biru Fika yang kayaknya kekecilan nampung tokednya yang putih bulat.

“ih na, jangan nempel2 gitu dong”

“napa ko?”

“gak enak aja. Itu kamu nempel di aku”

“apaan aku ko?”

“tuh..toked kamu”, jawab aku sekenanya sambil tetap liat monitor.

Diam sejenak.

“emang kenapa kalo nempel?”

“ya jadi bikin pengen kalee naa”

“pengen apa?”

“ya pengen megang hehehe”

“koko mau megang toked aku?”

Aku terkesiap. Aku nengok ke samping. Fika sedang tegak duduknya dengan cetakan toked bulat dan muka Fika yang kemerahan.

“emang boleh?”

“boleh ko”, lanjut Fika sambil langsung ngambil tangan kiri aku dan dia taro di tokednya yang empuuuk banget. Tanpa tunggu lama, aku langsung remes toked Fika.

“sshhhhhh……..koko……..aaaaahhhhhhhhhh……mmmmmhhhhhhh h”

“dua duanya boleh na?”

“sssshhh….iyaahh…boleh….”

Kini, 2 tangan aku sudah sibuk meremas toked Fika yang bener2 sekel. Gak puas disitu, aku minta ijin untuk meremas dari dalam. Fika dengan gampang mengiyakan permintaan aku dan tangan kanan aku mulai turun mencari ujung kaos dan mulai merambat masuk kaos Fika dan menemukan bra Fika. Aku remes dan aku gesek2

‘aakkkhhh…kokoo….teruss…enakk bangett..”

“toket kamu kenyal banget na..”, jawab aku sambil menikmati kekenyalan toked ini.

“na, bole aku kenyot gak?”, tanya aku yang langsung dijawab anggukan.

Aku tarik kaos Fika ke atas, dan aku dorong bra birunya ke atas. 2 toked putih bulat dan sekel menggantung bebas dengan pentil sedikit kemerahan. Langsung aku serbu toked2 itu. Aku isep gantian pentil kiri dan kanan. Fika merintih dan bergerak liar, terutama ketika aku gigit kecil pentilnya. Aku lirik, Fika mulai menggesek2an pangkal pahanya, Fika sudah siap rupanya.

Aku berputar ke arah belakang Fika, dan aku pelulk dia dari belakang. Aku cium tengkuknya dan aku remas toked nya dari belakang sedikit gemas.

“aaahhh…kokooo…pelan pelan…aaakkhhhh…….pentil ko….pelintirr….aaakkhhh”, aku ikutin kemauan Fika. Aku pelintir pentil toked nana kadang keras kadang lembut.

Melihat Fika makin horny, tangan kanan aku turun ke pangkal paha Fika. Aku gesek turun naik dan bikin Fika makin merintih keras dan mendorong tangan aku biar makin kegesek ama mekinya.ketika aku liat gerakan Fika makin gak beraturan dan dia merintih makin keras dengan mata tertutup, aku percepat gerakan tangan aku dan dia pun orgasme.
“aaakakhh….aku dapeeeeeeeeeeeeetttttttttttttttttttttt….aaaaaaaaaa aahhhhhhhhhhhhhhh!!!!!”

Tangan aku dijepit pahanya yang mengejang karena orgasme.

Setelah Fika buka mata, dia langsung mengarah ke aku dan meremas batang aku yang emang udah keras dari tadi.

“sekarang, buat koko”, Fika nurunkan celana dan cd aku dan mulia mengocok batang aku. Selang seling, Fika menghisap batang aku dan sangat enak. Apa anak ini uda pernah ya?., pengalaman sekali batin aku.

Makin lama, kocokan dan hisapan Fika membuat pertahanan aku hampir runtuh.

“na….aahh….koko dah mau dapet..”, kata aku sambil memegang kepala Fika dan menyodok lebih keras.

Fika sedikit gelagapan dan tepat aku mau keluar, Fika menarik kepalanya dan mengocok kencang serta ujung lidahnya menyapu ujung batang aku. Aku muncrat. Pipi, hidung, mulut, dada dan baju Fika dan sprei aku terkena muncratan.

Setelah kondisi reda, aku melihat Fika yang masi ngeliatin aku dengan muka belepotan sperma aku sambil senyum. Makin cakep aja nih sepupu aku.

“kok kamu mau ginian am aku?”

“abis aku uda suka ama koko dari dulu”

“kamu tapi kayanya uda pernah ya sebelum barusan?”

“gak kok, cuma liat di bf aja (blue fillm)”

“ooo. Tapi kamu hebat na, koko puas banget”

“heheh makasi ko. Aku ke toilet dulu ya, bersih2”

Ditinggal Fika ke toilet, aku melihat postur sepupu aku ini. Dengan baju masi berantakan, bra terangkat, dengan hotpants hitam, Fika bbener2 cewek sempurna. Putih, mulus, cantik dan badannya nafsuin. Melalui pintu kamar mandi aku yang gak dia tutup, aku liat dia beresin baju dan dalemannya.

“ko, da selesai lom logonya?”, tanya Fika memecahkan lamunan jorok aku.

“eh..bentar lagi selesai”, jawab aku gugup sambil nerusin kerjaan.

Sejak saat itu, kita berdua lebih deket tapi gak pernah terulang lagi kejadian sama Fika waktu itu. Entah kenapa., aku kangen peristiwa itu terulang kembali.
Bunyi ringtone hp aku membuyarkan lamunan.

Fika menelepon.

Dia butuh bantuan untuk membuat pelajaran komputernya. Wah, asik nih pikir aku.

Gak nyampe sejam, Fika sudah datang. Aku denger dia ngobrol ama nyokap dan masuk kamar aku.

Aku uda seneng aja dan langsung masuk kamar.

“hallo a….”, teriakan aku terputus saat liat ternyata Fika membawa temannya.

Sebut saja Dewi.

Dewi ternyata sahabat Fika. Dewi sedikit lebih pendek dari Fika dengan berat proporsional, berkulit putih mulus, rambut hitam panjang sepunggung dan terlbih dari semua, toked yang bulat penuh dan mancung sekali, jelas lebih besar dari punya Fika.

“Dewi”, dewi mengulurkan tangan.

“Erik”, jawab aku smbil menikmati tangan dewi yang halus berbulu.

“ko, dewi minta dibantuin kerjaan Excel nih, soal fungsi2 gitu”

“ooh…bisa, gampang kok. Ayok”, ajak aku ke mereka. Dewi mengambil posisi di kiri aku sedangkan Fika di kiri dewi. Ternyata harapan aku menjadi nyata, kali ini dewi yang toketnya selalu tersenggol tangan aku ketika dia ubah posisi duduk. Beda dengan Fika, dewi terlihat perubahannya, nafasnya mulai gak teratur dan kakinya mulai disatukan dan bergerak sana sini. Sudah horny dewi.

“ko, aku mau keluar bentar ya”, Fika ngeloyor pergi.

“koko uda punya pacar lom?”

“lom wi, kenapa?”

“mau jadi pacar dewi gak?”, kaget aku dengernya. Sejenak aku liat dewi dengan muka cantiknya dan gak tahu gimana, aku uda fk ama dewi. Dewi ahli bermain lidah, terbukti dewi membalas geraakan liar lidah aku di mulutnya. Tangan aku uda gtel pengen remes tokednya.

Dengan tangan kiri mengelus punggungnya, tangan kanan aku langsung meremas toked dewi kanan dan kiri.

“akkhhhh..koko…….enak…terus ko…….remess toked dewiiii…..”

“wi, toked kamu bagus banget. Ukuran berapa sih?

“36B ko..”

“wow, gede banget..isep yah?”, Fika langsung mengangguk.

Dengan tangan kiri di punggung dewi, tangan kanan aku menyibak kaos dewi yang hari itu memakai kaos ketat coklat muda sehingga bongkahan tokednya bener2 terlihat bentuknya.

Aku sedikit kesusahan mendorong bra nya karena montoknya toked dewi. Tangan kiri aku berusaha cari pengait bra dan terlepas sudah. Toked nana terdorong keluar dan menggantung bebas. Aku remes dengan gemes dan lansgung aku jilat bagian bawah tokednya.

“aaaaaaiihhhh….gellliiiiiiiiii….aaaahhh……kokooo……. .geliiiiiii”

“tapi enak gak..”

“enakkkkk….”

“kokooo….pentilnyaaaaa isep doongg…gatelll”, cerocos dewi yang bikin aku tambah semangat.

Isapan dan remasa aku makin kenceng dan aku dorong dewi sampe terlentang. Dengan 2 tangan, aku remes toket dewi dan aku pasang misionaris. Walaupun masi baju lengkap, celana basket aku bsa membuat dewi yang hari itu pake legging hitam merasakan batang aku. Aku tempelin dan aku gesek2.

“aaaahhhh…..teruuusss….iseeeeppp pentilnyyyaaa lagi kooooo…..dewi sukaaaaa”

Aku percepat gesekan aku.

“kokoo….dewiiii….aaaaahhhhh…….maauuu keluarrrr”

Aku konsentrasiin isapan aku di sekitar pentil dewi. Dan ketika pas sudah mau dapet, aku gigit kecil pentil dewi.

“aaauuuu….aaaaaakkkkkkkhhhhhhhhhhh……kokooooooooooo oooooooo…!!!”, aku sumpel mulut dewi dengan fk karena teriakannya mayan kenceng. Aku fk terus selama dewi mendpat orgasmenya.
Merasa yakin, aku pelorotin celana dan cd aku dan aku pelorotin juga legging dewi. Dewi gak pake cd.

Aku liat mekinya yang berbulu jarang, dan putih mulus. Aku deketin batang aku dan aku gesekin ke bibir meki dewi yang uda berlendir.

“wi, masukin ya?”

“iya ko…masukin aja…buat koko”, jawab dewi sambil menutup mata dan menggigit bibir ketika aku dorong batang aku masuk. Ternyata dewi sudah gak perawan. Dengan susah aku masukin batang aku.

Sempitnya meki dewi mmbuat batang aku mulai perih. Aku rangsang dewi lagi. Masih dengan batang di meki dewi, aku remes tokednya dan aku permainin pentilnya. Merasa mulai licin lagi, aku mulai pompa dewi.

“uuuuuuhhhhhhh…..kooooooo…..truuuussss”

Suara ini yang terdengar dari dewi terus menerus. Aku lirik ke arah pintu, pintu kamar aku masi terkunci. Sembari mompa, aku mikir juga, kemana Fika? Kok bisa tepat gini? Gimana klo dia masuk? Semua pikiran ada di otak aku tapi dikalagkan nafsu yang sedang menggenjot dewi.

Aku cabut batang aku, aku minta dewi nungging.

Dengan posisi ini, aku pengen remes tokednya sembari ml. ketika aku dapat tokednya, aku remes smbari aku maju mundur.

“oookkhhh….koko…enak bangettt….sssshhhh….aaaakkkhhhhh…..sshhh….sshhhh…. .terus koo..”

Main dengan posisi ini membuat aku cepet orgasme. Beberapa saat kemudian, aku akan orgasme, akupegang pantat putih montok dewi dan aku percepat goyangan pantat aku.
“ooh…aahh…oohh..aahhh…koko…aaahh…ooohhh…koo…”

“wi…aku keluarrr”

“samaa kooo”

Tepat batang aku akan muncrat, aku tarik batang aku dan aku muncrat di pantat dewi. Masih aku gesek2 ujung batang aku dengan bibir meki nya tapi gak berani ampe masuk, bsa hamil anak orang nih.

Aku terduduk lemas di kasur aku. Di depan aku, dewi masi nungging lemas. Mekinya terlhat terbuka dan berlendir bening. Melihat pemandangan ini, aku horny lagi. Aku gesek2 mekinya pake telapak aku dari belakang.

“aaahhh…kokooo….enaaakkk”, di luar dugaan, dewi masi ingin lagi. Aku gesek2 terus sampe suatu ketika, dewi mulai bergerak cepat dan badangnya mengejang. Pahanya lagi2 menjepit tangan aku. Aku biarin sampe ototnya mengendur.

Aku terbangun. Aku liat dewi tidur telanjang di samping aku. Sejenak aku kaget, dan duduk seketika. Mana Fika? Aku cek hp.

“koko, aku ada perlu sebentar nanti balik sorean. Have fun ya ama dewi mmuachh”, tulis Fika di sms aku. Sedikit bingung aku bacanya.

Nengok ke dewi, dewi sedang tidur tengkurap dengan kaki kiri sedikit naik sehingga mekinya bisa terlihat. Tokednya yang terjepit juga terlihat menantang. Batang aku mulai minta disarungkan lagi. Pelan2 aku deketin meki dewi dan aku elus2. Ternyata gak lama, mulai licin mekinya, aku terusin sampe dewi mulai mengerang. Aku tengok, dia masi teratur nafasnya.

Perlahan aku angkat kakinya dan aku dorong batang aku.

“aahh..ko? mau lagi..?”, dewi mengerjap2kan mata sambil melihat posisi aku.

“iya wi, abis kamu seksi banget”

“ayo ko…lanjutin”, sambut dewi sambil menutup mata.

Dengan posisi ini, batang aku bisa lebih terasa bergesekan dengan dinding meki dewi yang sangat soft dan licin. Bertahan di gaya ini, aku remas toked dewi dan aku maini pentilnya keras2.

“uuuuuuuhhhhhh….kokooo…dewi mau dapet lagiiiii…..kokoooo….aaaahhhh”

“sama sayang…koko juga….”

Makin semagat aku pompa, toked putih dewi terguncang2 atas bawah.

Tiba2 aku cabut batang aku membuat dewi kaget.

“loh kok?.....aaakkkhhhh kokoo…”, ucapan dewi terhenti ketika aku balik dia dan aku isep pentilnya.

“kokooo…teruuuussss…mau dapetttttt”

Dengan satu gerakan panjang, aku jepit pentil nya smentar jari lain di toked satunya. Aku tarik ke atas berbarengan aku tusuk batang aku dan aku goyang sedikit kasar.
“aaaahhhh kokooooo…..aaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhh!!!!!!!!!”

“aaaahh…dewiiiiiii”

Kedua kaki dewi mengunci pantat aku. Aku muncrat di rahim dewi.

Aku kaget dan berusaha lepasin pantat aku tapi kuncian kaki dewi membuat aku merasakan angetnya mani aku sendiri di meki dewi. Aku akhirnya cabut batang aku dan keliatan dikit mani aku bercampur sama cairan nikmat dewi.

Aku terbaring di kasur dan melhat dewi. Mata terpejam, toked putih bulat basah keringat naik turun, dengan pentil tegak ke atas. Turun ke bawah, bulu2 jarang meki dewi bergerak2 kecil tertiup angin AC.

Aku deketin dewi dan aku fk dia. Setelah beberapa lama, aku lepas bibir dia.

“kok kamu mau si ama aku?”

“abis koko jago katanya”

“hah? Kata sapa?”

“Fika”

Terkesiap aku dengernya. Berarti sepupu aku ini nakal juga yah.

Melihat dewi yang masih ngos2an, aku naik horni lagi. Kali ini aku fk dia sambil tangan aku remes2 tokednya. Sampe lama, aku gak sentuh daerah mekinya.

“kokooo….aaahhhh….gatelll…kokoooo….aaaahhhh….maauu u….”

Karena aku yang uda ngilu bangt, tangan aku yang menggantikan batang, dengan cepat, tangan aku menggesek meki dewi.

“ssshhhhhhhhhhaaaahhhhh…..aaaaaaaaaaakkkhhhhhhhh!! !!”, seketika itu juga dewi orgasme lagi..

“aaaahhh….hhhhhmmmm…mmmfff…aaahhh…kokoo nakall…..aaahhhh”

Aku pelintir pentilnya dan aku peluk dewi. Tangan dewi mencari pantat aku dan meremas-remas. Bener2 posisi nyaman waktu itu.
Menjelang sore, dewi aku suruh bersih2 dulu sebelum Fika dateng.

Fika dateng sore itu dan mereka meninggalkan rmh aku.

Aku gak pernah lagi ketemu ama dewi. Kata Fika, dewi kuliah di luar kota dan kabar terbaru, dia sudah merid. Thank you dewi untuk pengalaman seks sama kamu.

Jumat, 20 November 2015

Nafsu Birahi Adik Angkat Ku



Cerita Sex | Gardenbet.net  - Awal cerita terdahulu di  Perkosa Adik Angkat yang napsuin “ sudah aku ceritakan kalau aku akhirnya mempunyai niat untuk memperkosa adik angkatku, Fany. Segala cara aku lakukan untuk membangkitkan nafsu birahi adik angkatku yang montok itu. Dan akhirnya aku berhasil membangkitkan nafsu birahi adik angkatku.
Setelah aku membobol liang anusnya yang membuat Fany terkapar kembali. Aku biarkan Fany beristirahat sebentar kemudian aku mencabut penisku dari dalam anusnya kini aku mengarahkannya pada liang vagina Fany
“Ahhh… jangannn Bayy …jangan…ampun… ngakkkk mau”
Fany kembali menangis dengan tiba tiba.
“Udah coba aja dulu… pasti kamu suka koq”
Aku menjawab dengan santai sambil menggesek gesekkan kepala kemaluanku pada lubang vagina Fany.
Aku mulai menekan dengan kuat namun kepala kemaluanku malah terpeleset karena daerah vagina Fany terlalu licin tapi aku tidak putus asa membangkitkan nafsu birahi adik angkatku, aku terus menekan – nekan, setelah mencoba sebanyak 5 kali akhirnya kepala kemaluanku mulai dapat menyelam kedalam jepitan bibir vagina Fany
“Bayuu jangan… ahhh jangannn enggakk!!!!!!”
Fany benar – benar ketakutan dan ia menjerit jerit.
Jeritan Fany malah membuatku semakin mendorongkan penisku sampai terasa ada sesuatu didalam vagina Fany yang menahan lajunya kepala kemaluanku. Hmmmmm…. Aku yakin inilah dinding pusaka milik Fany yang cuma ada satu satunya didunia dan enggak bisa digantikan atau diperbaiki, aku mengambil ancang – ancang dan “Jrebbb… Jrebb”sekuat tenaga aku menghentak-hentakkankan penisku berusaha menjebol dinding pusaka itu dan berhasil juga aku perkosa adik angkatku yang napsuin.
Sementara Fany menangis dengan kencang sampai terisak – isak Aku tetap memompa penisku sambil menciumi Fany. Uhhhh…nikmatnya…dan aku semakin kencang memompa – mompa liang vagina Fany, lama kelamaan tangisan Fany berubah menjadi erangan dan kemudian menjadi desahan desahan dan rintihan. Mata Fany yang masih basah memandangiku yang masih terus memompanya dengan kuat sehingga tubuh Fany tersentak – sentak diatas ranjang,  dengan tatapan mata penuh nafsu birahi adik angkatku memandangiku dan kurasakan sinar mata Fany menjadi lembut.
Aku balas memandanginya mata Fany yang terpejam pejam ketika kusentak-sentakkan penisku dengan kuat
“Serrrrrr…. Crot.. Achhh”
Fany menggelepar dalam terkaman nafsu birahi ku. Aku menarik keluar penisku dari dalam vagina Fany, Aku melihat ada cairan meleleh keluar ketika aku mencabut penisku dan itu adalah cairan kenikmatan Fany yang tercampur dengan merahnya darah keperawanan Fany. Penisku tampak masih segar bugar dan terasa tegang maka aku kali ini kembali menusukkan kepala penisku pada liang anus Fany, basahnya penisku oleh air mani Fany yang licin mempermudah kepala penisku untuk kembali menyelinap pada liang anus Fany
“Unggghh…” Fany mengeluh ketika kusentakkan kepala penisku , aku semakin menekan penisku kedalam dan mengunjungi kembali lubang anus Fany.
Air Mani Fany yang menempel pada penisku seakan akan menjadi pelumas sehingga aku merasakan pergesekan antara lubang anus Fany yang sempit terasa semakin membuat nafsu birahi ku semakin tinggi dan akupun semakin cepat memacu penisku maju mundur menggesek liang anus Fany.
“Hhhh… nnnhhhhh… ngggghh”
Suara Fany benar benar membangkitkan nafsu birahi ku  ketika aku memompa – mompa semakin kuat dan cepat, aku mencengkram pinggul Fany dan terus mempercepat kocokanku, mataku melihat buah dada Fany bergerak dalam irama yang mengasikkan apalagi tubuh Fany kini berkeringat sehingga air keringat membuat kulitnya yang putih dan mulus bagaikan mengkilap , benar – benar pemandangan yang sedap dipandang oleh mata.
Lama kelamaan aku merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar tapi aku tetap bertahan aku tidak rela jika hanya keluar sendirian maka sambil terus menyentak – nyentakkan penisku menyodomi Fany aku menggosok – gosok klitoris Fany dengan agak kuat.
“Ouch… Nggggg… Mhhhhh”Fany tidak dapat menahan nafsu birahinya.
“Sert…cret…crot……”tidak berapa lama aku juga memuntahkan sesuatu yang terasa sangat enak dan nikmatnya dari dalam penisku didalam anus Fany. Aku memeluk kuat kuat tubuh Fany yang masih terengah – engah karena kecapaian. Benar – benar luar biasa kenikmatan yang bisa kunikmati dari tubuh Fany, perlahan – lahan nafas kami berdua berubah menjadi tenang, dengan santai aku mencabut penisku dari dalam liang anus Fany.
Aku tersenyum melihat Fany yang memandangiku dengan tatapan matanya yang tampak kecapaian, aku bangkit dari atas tubuh Fany dan keluar dari dalam kamar Fany, dari dalam kulkas aku mengambil sebotol air dingin dan dengan lahap aku meneguk air dingin yang menyegarkan, setelah beristirahat sebentar aku kembali kekamar Fany, aku melihat Fany yang mengeliat – geliat pertamanya sihhh aku curiga Fany hendak melepaskan diri namun Fany hanya mengeliatkan tubuhnya.
Hmm…mungkinkah Fany merasa pegal karena kuikat? he he hehehe…. Aku mendekati Fany kembali lalu aku menyodorkan botol minuman kedekat mulutnya dan Fany meminum habis tanpa sisa setetespun. Aku kini membaringkan tubuhku disisi Fany tanganku bergerak melepaskan ikatan pada kaki Fany dan Fany mengeliat – geliatkan tubuhnya , aku membantu memijat mijat bagian pinggul Fany yang pasti terasa sangat pegal, terutama pinggul bagian belakang, mataku melirik vagina Fany, rupanya Fany baru menyadari kalau sedari tadi ia mengangkang sehingga mataku dapat menikmati keindahan Vagina Fany yang mengasikkan makanya ia langsung merapatkan kedua paha serapat mungkin dan berusaha menggeser posisi pinggul seakan – akan hendak menyembunyikan wilayah terpenting pada tubuhnya.
Aku merasakan penisku kembali tegang kini tanganku meraba – raba ketiak Fany dan mulai mendekatkan mulutku pada ketiak Fany yang terbuka lebar karena kedua tangan Fany kuikat keatas, aku menjilati ketiak Fany sampai Fany mengeluh dan merintih – rintih kegelian aku berusaha untuk membangkitkan nafsu birahi Fany , Duhhhh ketiak Fany harum dan terasa lembut dilidahku, akupun tidak segan – segan lagi menghisap – hisap ketiak Fany dengan agak kasar, sambil menghisap – hisap, tanganku mulai membelai – belai buah dada Fany, kuremas buah dada Fany dengan lembut , Fany semakin sering merintih – rintih, Aku melihat Fany terpejam – pejam dan mulutnya setengah terbuka sehingga menambah cantik wajahnya aku mulai menggeluti tubuh Fany tanganku melingkar memeluk pinggang Fany dan yang satu lagi memeluk punggung Fany.
Aku mendekatkan wajahku pada wajah Fany dan langsung mencium bibirnya yang agak terbuka, aku mengisap dengan lembut namun semakin lama hisapanku semakin kuat dan membara
“Hmm…Mmmhh”suara mulut Fany tersumpal mulutku yang sedang asik menghisap dan mengait – ngait lidah Fany, Fany agak meronta dan nafasnya semakin memburu rupanya Fany mulai kehabisan nafas tapi aku malah semakin kuat memeluk tubuh Fany dan semakin kuat menghisap mulutnya aku ingin menghisap dan membersihkan mulut Fany yang sering dipakai untuk memakiku. Lama juga aku bertarung mulut dengan Fany aku akhirnya melepaskan mulutku dari mulut Fany,
“Ahh…Hhh…hhhhhhh”Aku melihat Fany menarik nafasnya panjang – panjang , mata Fany memandangiku dengan tatapannya yang sayu penuh nafsu birahi. Aku melepaskan tangannya sebelah kiri dan kemudian yang sebelah kanan, tubuh Fany mengeliat dalam pelukanku , aku memijat mijat bagian pundak Fany yang pasti terasa pegal, Aku merasa senang berhasil menjinakkan Fany yang semula begitu garang melakukan perlawanan, tangannya yang sering dipakai menampar wajahku kini terkulai lemah tanpa tenaga , mulutnya yang sering memakiku kini merintih rintih dan terasa sangat merdu ditelingaku.Aku mulai mempermainkan buah dada Fany yang terasa semakin mengeras dan semakin kenyal, jari tanganku juga semakin sering menarik – narik perlahan puting susu Fany kemudian kulanjutkan aksiku meremas – remas buah dada Fany dengan telapak tanganku berada dibagian bawah buah dadanya yang lembut.

Tanganku kemudian meraba bagian kemaluan Fany dan ternyata Fany sudah basah, aku lalu menggeser posisiku. Aku berlutut diatas ranjang, kedua tanganku menarik kedua kaki Fany dalam posisi mengangkang dan menaruhnya dipundakku sebelah kiri dan sebelah kanan, aku mengeser posisiku sehingga kini kepala kemaluanku berada dihadapan bibir vagina Fany, aku menggesek – gesekkan kepala penisku sampai terasa geli karena licinnya bibir vagina Fany, aku menekan memasukkan kepala penisku dan bibir vagina Fany tanpa banyak komentar langsung menelan kepala penisku , aku memegangi kedua kaki Fany dan menghentakkan penisku kuat kuat
“Ahhhhhhhhhhhhhh…. “Fany menjerit kecil ketika aku menyentakkan penisku kedalam vaginanya selanjutnya aku memacu penisku dengan cepat dan kuat.
“Engggggg… Unghhhh Ahh!”tangan Fany menahan perutku dan aku berhenti sambil memandanginya , selanjutnya aku kembali menghajar vagina Fany habis – habisan sampai Fany menjerit – jerit kecil menahan seranganku yang semakin hebat , tangan Fany menggapai – gapai mencari pegangan dan meraih guling sambil memeluk guling itu kuat – kuat, aku terus melakukan serangan serangan dan melesatkan penisku dengan kuat – kuat memanah lubang vagina Fany yang semakin lama semakin terasa mengasikkan untuk dipanah dan “Crottt…. Crrttt….. crrtttt”aku melihat Mata Fany terpejam rapat disertai tubuhnya yang menggelepar merasakan rasa nikmat, aku membiarkan Fany menikmati rasa nikmat itu sampai tuntas, kemudian aku menurunkan kedua kaki Fany , tanganku menarik guling yang sedang dipeluk oleh Fany dan melemparkan guling itu kelantai selanjutnya aku menjatuhkan tubuhku dan memeluk punggung Fany dan menghentak – hentakkan penisku, kaki Fany yang biasanya dipakai untuk menendang tulang keringku kini menjepit tubuhku yang semakin kuat menghentak – hentakkan, kedua tangannya yang tadinya dipakai memeluk guling kini dipakainya untuk memelukku , agak lama aku merasakan pelukan Fany semakin kuat dan kedua kakinya semakin kencang menjepit tubuhku , aku mendengar dengar suara – suara yang merdu keluar dari mulutnya
“Engghhh Owwhhh crottttttt…. Crrt”
Aku merasakan pelukan Fany yang semula kencang kini melemah, aku terus menghentak – hentak dengan kuat karena aku merasakan sesuatu akan keluar dari penisku dan “Crrt.. Croottt”kini gantian aku yang memeluk kuat – kuat tubuh Fany, nafasku tersengal-sengal bergabung dengan nafas Fany yang juga memburu dengan kencang dan kuat bagaikan sedang habis berlari.
Hari itu aku tertidur sambil menindih tubuh Fany dan rasanya sangat menyenangkan, keesokan harinya aku bangun lebih dahulu dari Fany yang memang pemalas, Aduhhh!!!!! Begitu turun dari ranjang rasanya kedua kakiku lemas, dengkulku terasa akan lepas dari sendirnya, tiba- tiba aku teringat hari ini hari Rabu , biasanya orang tua angkatku pulang, aku langsung bangkit dan memakaikan pakaian tidur untuk Fany yang masih tertidur, setelah beres kini giliranku yang pakai baju….namun aku mendengar suara mobil dari kejauhan dan itu suara mobil orang tua angkatku!!! aku panik dan berlari menuju kamarku dalam keadaan telanjang bulat.
Hari Rabu itu Fany mendadak demam , aku dimarahi karena tidak menjaga Fany dengan baik, aku disuruh menunggu rumah sedangkan orang tua angkatku mengantar Fany ke dokter. Fany diberi izin untuk beristirahat dirumah oleh dokter sedangkan orang tua angkatku dengan penuh perhatian merawat Fany sampai demam Fany sembuh selama tiga hari. Pada hari yang keempat kondisi Fany berangsur membaik tapi ia masih harus istirahat, kedua orang tua angkatku harus segera pergi lagi menyelesaikan urusan bisnisnya dan kembali mempercayakan anak gadisnya padaku.
Dengan girang aku memasuki ke kamar tidurnya, kubuka perlahan-lahan pintu itu. Fany masih tertidur, aku berdiri di pinggir ranjang mengguncang tubuhnya. Ia membuka-matanya perlahan-lahan lalu matanya membelakak kaget, wajahnya ketakutan sambil menggeleng-geleng kepalanya melihat diriku yang berdiri di sampingnya sambil menyeringai jahat.
“Tidakkkk!!!” jeritnya.

Rabu, 18 November 2015

Pembantu Berpengalaman

Video Bokep - Haduh sudah bosan rasanya waktu sungguh lama berputarnya kira kira masih 45 menit perkuliahanku habis sebelum masuk kuliah kakak iparku meneleponku katanya kalau habis pulang kuliah disuruh mampir kerumahnya, biasanya untuk menjaga rumahnya atu ada keperluan lainnya, kakaku sering menyuruhku untuk menjaga rumahnya jika dia ingin pergi ke luar kota.

Rintik-rintik hujan mulai turun semakin lebat. Mbak Padmi yang bekerja di rumah abangku ini bergegas ke halaman belakang untuk mengambil jemuran.

Kemudian, “Den Mad!”, teriaknya keras dari belakang rumah.

Aku berlari menuju arah suaranya dan melihat Mbak Padmi terduduk di tepi jemuran. Kain jemuran berhamburan di sekitarnya.

“Den Mad, tolong Mbak Padmi bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil menyeringai mungkin menahan sakit.

“Mbak tadi tergelincir”, sambungnya. Aku hanya mengangguk sambil mengambil kain yang berserakan lalu sebelah tanganku coba membantu Mbak Padmi berdiri.

“Sebentar Mbak. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya memegang kain yang berada di tangan Mbak Padmi.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak Padmi. Ketika aku menghampiri Mbak Padmi lagi, dia sudah separuh berdiri dan mencoba berjalan terhuyung-huyung.

Hujan semakin lebat seakan dicurahkan semuanya dari langit. Aku menuntun Mbak Padmi masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi. Dadaku berdetak kencang ketika tanganku tersentuh buah dada Mbak Padmi.

Terasa kenyal sehingga membuat darah mudaku tersirap naik. Kuakui walau dalam umur awal 30-an ini Mbak Padmi tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kakak iparku yang berusia 25 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan potongan badannya yang masih menarik perhatian lelaki.

 Tidak heran, pernah Mbak Padmi kepergok oleh abangku bermesraan dengan laki-laki lain.

“Tolong ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Padmi ketika aku masih termangu-mangu. Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan kuberikan kepadanya.

“Terima kasih Den Mad”, katanya dan aku cuma mengangguk-angguk saja. Kasihan Mbak Padmi, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Suaranya halus dan lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak tersenyum.

Rajin dan tidak pernah sombong atau membantah. Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Tak pernah ada yang menyuruhnya karena dia tahu tanggung jawabnya. Kadang-kadang saya memberinya sedikit uang, bila saya datang ke sana.

Bukan karena apa, sebab dia mempunyai sifat yang bisa membuat orang sayang kepadanya. Abangku tidak pernah memarahinya. Gajinya setiap bulan disimpan di bank. Pakaiannya dibelikan oleh kakak iparku hampir setiap bulan.

Memang dia cantik, dan tak tahu apa sebabnya hingga suaminya menceraikannya. Kabarnya dia benci karena suaminya main serong.

Hampir 6 tahun lebih dia menjanda setelah menikah hanya 3 bulan. Sekarang dia baru berusia 33 tahun, masih muda. Kalau masalah kecantikan, memang kulitnya putih. Dia keturunan Cina. Rambutnya mengurai lurus hingga ke pinggang.

Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada kelebihannya. Kelebihan Mbak Padmi ialah sikapnya kepada semua orang, budi bahasanya halus dan sopan.

Mbak Padmi berdiri lalu mencoba berjalan menuju ke kamar mandi. Melihat keadaannya masih terhuyung-huyung, dengan cepat kupegang tangannya untuk membantu. Sebelah tanganku memegang pinggang Mbak Padmi.

Kutuntun menuju ke pintu kamar mandi. Terasa sayang untuk kulepaskan peganganku, sebelah lagi tanganku melekat di pinggangnya. Mbak Padmi menghadap ke diriku saat kutatap wajahnya. Mata kami saling bertatapan.

Kulihat Mbak Padmi sepertinya senang dan menyukai apa yang kulakukan. Tanganku jadi lebih berani mengusap-usap lengannya lalu ke dadanya. Kuusap dadanya yang kenyal menegang dengan puting yang mulai mengeras.

Kudekatkan mulutku untuk mencium pipinya. Dia berpaling menyamping, lalu kutarik lagi pipinya. Mulut kamipun bertemu. Aku mencium bibirnya. Inilah pertama kalinya aku melakukannya kepada seorang wanita.

Erangan halus keluar dari mulut Mbak Padmi. Ketika kedua tanganku meremas punggungnya dan lidahku mulai menjalari leher Mbak Padmi. Ini semua akibat film BF dari CD-Rom yang sering kutonton dari rumah teman.

Mbak Padmi bersandar ke dinding, tetapi tidak meronta. Sementara tanganku menyusup masuk ke dalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup. Kuhisap dan kugelitik langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan.

Tanganku bergerak bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri bersandar di dinding. Kami terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu.

Aku merasa tubuh Mbak Padmi menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Mbak Padmi kubuka. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam.

Daging kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan.
Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Kuhisap puting yang mengeras itu hingga memerah. Mbak Padmi semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi.

Tangannya liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yang membusung.

Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”. Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya.

Lidahku kini bermain di pusar Mbak Padmi, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya.
Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak Padmi semakin kuat menarik rambutku.

“Den Maddd…, Den Mad”, suara Mbak Padmi memanggilku perlahan. Aku terus melakukan usapanku. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah.

Tanganku mulai menyentuh daerah kemaluannya. Rambut halus di sekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan. Ketika lidahku baru menyentuh kemaluannya, Mbak Padmi menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu.

Pandangannya ditujukan ke tempat tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Padmi seraya menuntun Mbak Padmi menuju tempat tidur. Bau kemaluannya merangsang sekali. Dengan satu bau khas yang sukar diceritakan.

“Den Maddd…”, bisiknya perlahan di telingaku. Aku terdiam sambil mengikuti apa yang kuinginkan.

Mbak Padmi sepertinya membiarkan saja. Kami benar-benar tenggelam. Mbak Padmi kini kutelanjangkan.

Tubuhnya berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya cukup menggiurkan. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh.

Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Memang Mbak Padmi tidak memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan.

Kakinya merapat. Karena itu aku tidak dapat melihat seluruh kemaluannya. Cuma sekumpulan rambut yang lebat halus menghiasi bagian bawah. Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. ritsluiting jeans-ku kuturunkan.

Aku telanjang bulat di hadapan Mbak Padmi. Penisku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Padmi. Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya.

Mbak Padmi telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik. Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Padmi.

Sungguh lembut tubuh mungil Mbak Padmi. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas.

Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku menyentuh pinggang Mbak Padmi. Kudekatkan penisku ke tangan Mbak Padmi. Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya. Memang Mbak Padmi tahu apa yang harus dilakukan.

Maklumlah dia pernah menikah. Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film BF, itu saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya. Terasa berlendir basah di kemaluannya. Aku beralih dengan posisi 69.

Rupanya Mbak Padmi mengerti keinginanku. Lalu dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Mbak Padmi melumat kepala penisku dengan lembut.

Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Mbak Padmi terasa menarik-narik batang penisku. Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat.

Kubuka lebar-lebar paha Mbak Padmi sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Mbak Padmi mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku.

Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Mbak Padmi semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya.

Tentu Mbak Padmi sudah cukup terangsang, pikirku. Aku kembali pada posisi semula.
Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Mbak Padmi memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya.

Kedua Kaki Mbak Padmi mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Mbak Padmi terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.

Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Mbak Padmi semakin membuka pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Mbak Padmi sudah tidak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan kenikmatan baginya

Erangan Mbak Padmi semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Aku bertanya, “Gimana Mbak rasanya?”, suaraku lembut dan sedikit manja. Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang.

Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu.

Perlahan-lahan kutekan ke dalam. Tekanan penisku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Padmi menggelinjang seperti kesakitan. “Pelan-pelan Den Madd!”, Mbak Padmi berbicara dengan nafas sesak.

Aku sekarang mengerti. Kemaluan Mbak Padmi sudah sempit lagi setelah 6 tahun tidak disetubuhi, walaupun dia sudah tidak perawan lagi. Memang aku belum berpengalaman kerena ini merupakan pertama kalinya aku menyetubuhi seorang wanita walau umurku sudah matang

Kutekan lagi. Kumasukkan penisku perlahan-lahan. Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Lalu Mbak Padmi memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang.

Hanya sebagian penisku yang masuk. Kubiarkan sebentar penisku berhenti, terdiam. Mbak Padmi juga terdiam. Tenang. Sementara itu, kupeluk tubuh Mbak Padmi dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut.

Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang. Lalu kemudian aku bertanya dengan suara lembut, “Mau diteruskan…?”. Mbak Padmi membuka matanya.

Di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Kutekan penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Mbak Padmi, mencengkram seluruh batang penisku.

Penisku terasa seperti tersedot di dalam vagina Mbak Padmi. Kami makin terangsang! Penisku mulai memasuki kemaluan Mbak Padmi lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan.

Mata Mbak Padmi terbuka menatapku dengan pandangan yang sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya.
Sedikit demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya.

Mbak Padmi mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di kemaluannya. Kadang-kadang punggung Mbak Padmi terangkat-angkat menyambut penisku yang sudah melekat di kemaluannya.

Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas kami yang tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak Padmi mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku.

Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan. Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya. Goyanganku semakin kuat.

Kasur Mbak Padmi bergoyang mengeluarkan bunyi berdecit-decit. Leher Mbak Padmi kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yang menandakan air maniku akan keluar.

Denyutan yang semakin keras membuat penisku semakin menegang keras. Mbak Padmi mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya. Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Mbak Padmi semakin keras menjepit penisku.

Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja. Bersandar pada tubuhku, Mbak Padmi lunglai seperti tidak bertenaga. Kugoyang terus hingga tubuh Mbak Padmi seperti terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku itu.

Nafasnya semakin kencang. Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat ke dalam kemaluan Mbak Padmi. Bergetar badanku saat maniku muncrat. Mbak Padmi mengait pahaku dengan kakinya.

Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat. Waktu aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke dalam.

Kulihat Mbak Padmi menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa segala-galanya. Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa tusukan tadi memang membuat kami sampai ke puncak bersama-sama.

Memang hebat. Sungguh puas. Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama. Mbak Padmi lah wanita pertama yang mendapatkan air perjakaku. Walaupun dia seorang janda, bagiku dia adalah wanita yang sangat cantik.

Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana. Mbak Padmi memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yang tidak pernah merasakan kenikmatan persetubuhan, bagiku Mbak Padmi betul-betul memberiku surga dunia.

Aku terbaring lemas di sisi Mbak Padmi. Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang Mbak Padmi. Kulihat Mbak Padmi tertidur di sebelahku.

Kejadian yang tidak pernah kuimpikan, terjadi tanpa dapat dielakkan. Mbak Padmi juga telentang dengan mata tertutup seperti kelelahan, mungkin lelah setelah dapat menghilangkan keinginan batinnya sejak menjanda 6 tahun yang lalu. Kami masih berpelukan.

Kemudian Mbak Padmi terasa seperti mengusap mukaku. Kubuka mataku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Seolah-olah kami tidak merasa aneh berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.

Dia mencium bibirku.

Dia berbisik ketelingaku,

“Terima kasih ya Den Mad. Mbak…” Belum sempat dia menghabiskan kata-katanya, aku bertanya,

“Mbak puas…?”. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Dua kali!”, jawabnya ringkas.

“Den Mad kamu memang hebat, penismu juga besar! Panjang!”, katanya.

Sementara itu ia mengocokkan batang penisku. Suaranya membangkitkan gairahku. “Mbak suka?”, tanyaku. Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka. Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus penisku.

Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi. “Mbak mau lagi?”, tanyaku dengan suara manja.
Dia tersenyum manis. Apa yang kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka selimutnya. Kulihat kaki Mbak Padmi sudah mengejang. Sedikit demi sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah.

Segunduk daging mulai terlihat. Ufff…, detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati kembali tubuh Mbak Padmi tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilat di depanku.

Kurentangkan kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Mbak Padmi. Kedua belahan bibir mungil kemaluannya kubuka. Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yang telah menanti.

Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yang lebih jelas. Memang indah membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yang menghambat nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir kemaluan Mbak Padmi dengan bibir dan lidahku.

Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian kemaluan Mbak Padmi. Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yang dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging kecil yang menonjol di mulut vaginanya, Mbak Padmi mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup perlahan.

Beberapa kali kulihat Mbak Padmi mengejangkan kakinya. Aku sangat menikmati bau khas dari liang kemaluan Mbak Padmi yang memenuhi relung hidungku. Membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan lidahku ke lubang kemaluan Mbak Padmi yang kini sedikit terbuka.

Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi, tapi tidak bisa. Mungkin karena lidahku kurang keras. Tetapi, kelunakan lidahku itu membuat Mbak Padmi beberapa kali mengerang karena nikmat. Dalam keadaan sudah terangsang, kutarik tubuh Mbak Padmi ke posisi menungging. Ia menuruti permintaanku dan bertanya dengan nada manja.

“Den Mad mau diapakan badan Mbak?”, bisiknya.

Aku rasa dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya dulu. Aku diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga kusut. Air mani Mbak Padmi sudah membasahi kemaluannya. Kubuka pintu kemaluannya.

Kulihat dan perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak pernah melihat kemaluan wanita serapat itu. Kucium kemaluan Mbak Padmi. Bau anyir dan bau air maniku bercampur dengan bau asli vagina Mbak Padmi yang merangsang.

Bau vagina seorang wanita! Jelas semua! Bulu kemaluan Mbak Padmi yang lembab dan melekat berserakan di sekitar vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi ruang. Kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang vaginanya.

Kumain-mainkan di dalamnya. Kulihat Mbak Padmi menggoyang punggungnya. Kucium dan kugigit daging kenyal punggungnya yang putih bersih itu. Kemudan kurangkul pinggangnya. Kumasukkan penisku ke liang vaginanya.

Pinggang Mbak Padmi seperti terhentak. Perlahan-lahan kutusukkan penisku yang besar panjang ke lubang vaginanya dengan posisi “doggy-style”. Tusukanku semakin kencang. Nafsu syahwatku kembali sangat terangsang.

Kali ini berkali-kali aku mendorong dan menarik penisku. Hentakanku memang kasar dan ganas. Kuraih pinggang Mbak Padmi. Kemudian beralih ke buah dadanya. Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan.

Lama juga Mbak Padmi menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir setengah jam. Maklumlah ini adalah kedua kalinya. Tusukanku memang hebat. Kadang cepat, kadang pelan. Kudorong-dorong tubuh Mbak Padmi. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya memanjang. Berkali-kali.

Seperti orang terengah-engah kecapaian. “Ehh.. ek, Ekh, Ekh.” Akirnya aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu kurangkul kedua bahu Mbak Padmi sambil menusukkan penisku ke dalam. Tenggelam semuanya hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan spermaku. Kutarik lagi, dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali kugoyang seperti itu.

Mbak Padmi terlihat pasrah mengikuti hentakanku. Kemudian kupeluk tubuhnya walaupun penisku masih tertancap di dalam kemaluannya. Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami berciuman. Begitu lama hingga terasa penisku kembali normal.

Mbak Padmi sepertinya kelelahan. Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang miring sambil berpelukan. Mbak Padmi terlihat lemas lalu tertidur. Melihat Mbak Padmi begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Kurangkul tubuh Mbak Padmi dan aku bermain sekali lagi. Kali ini Mbak Padmi menyerah. Dia tidak menolak. Kumainkan kemaluannya sampai puas. Bau di kamar ini adalah bau air mani kami.

Bunyi tempat tidur pun berdecit-cit. “Ahh… aaghh.” Sesudah itu perlahan-lahan aku berdiri dan memakai kembali pakaianku. Aku keluar dari kamar Mbak Padmi menuju ke ruang depan. Sewaktu aku keluar, barulah aku sadar pintu kamar Mbak Padmi tidak tertutup rapat.

Rupa-rupanya kakak iparku sudah pulang. Mendadak aku pucat kalau-kalau kejadian tadi disaksikan oleh kakak iparku. Aku keluar sambil mencoba berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku duduk di sofa.

Sebentar kemudian kakak iparku datang membawa minuman. Kulihat mukanya biasa saja.

Kuyakinkan diriku bahwa kakak iparku tidak tahu apa yang telah terjadi tadi antara aku dengan Mbak Padmi.

Aku bertanya, “Abang tidak pulang sama Mbak?” “Tidak.

Dia ke Singapore 4 hari!”, jawabnya. Dia tersenyum.

“Minumlah!”, dia mempersilakanku. Kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya. Aku duduk dan menonton film “Airforce One”.

“Mbak sebentar lagi mau pergi, ambil mobil di sana. Nanti malam tolong kamu tidur di sini ya, sekilan jaga rumah!”, katanya pendek.

Memang bagitulah biasanya. Kalau abangku tidak ada, aku yang jadi sopir kakak iparku untuk membawa Mercedez-nya ke mana-mana.

Malam itu aku tidak pulang ke flatku. Tidur di rumah abangku! Memang ada kamar khusus untukku di rumahnya yang cukup besar itu. Tapi yang lebih spesial lagi bagiku adalah tidur dalam pelukan Mbak Padmi.